Senin, 25 Januari 2010

Rendahnya Minat Baca, Mengapa?

Tahukah kita, setiap tanggal 17 Mei kita peringati sebagai Hari Buku Nasional. Memang, pamor momentum tersebut kalah jika dibandingkan dengan momentum lainnya, seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei) atau Hari Kebangkitan Nasional (21 Mei). Itu disebabkan banyak faktor, salah satunya ialah karena buku dan aktivitas yang terkait dengannya, seperti membaca dan menulis, tidak begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia. Benarkah?

Masalah minat baca di kalangan anak-anak maupun orang dewasa di negeri kita sudah banyak ditulis di koran, majalah, sebagai topik penelitian atau makalah untuk diseminarkan. Kalau kita cari di internet dengan Google Search akan ditemukan ratusan tulisan/informasi tentang hal ini.

Namun, topik ini tetap menarik dan aktual. Mengapa? Karena setelah begitu banyak ditulis dan dibicarakan masih saja belum tampak peningkatan minat baca yang signifikan. Para pelajar sekolah menengah hanya membaca ketika mau ulangan. Mahasiswa hanya membaca saat mau ujian. Sedangkan para birokrat dan aparat negara hanya membaca apa yang terkait dengan bidang tugasnya misalnya buku perundang-undangan.

Indikator rendahnya minat baca adalah dihitung dari jumlah buku yang diterbitkan yang memang masih jauh di bawah penerbitan buku di negeri-negeri maju. Negara disebut maju karena rakyatnya suka membaca. Ini dibuktikan dari jumlah buku yang diterbitkan dan jumlah perpustakaan yang ada di negeri itu.

Mengapa orang-orang (baik anak-anak maupun orang dewasa) Indonesia kurang berminat membaca? Padahal jika dicermati sejenak penerbitan majalah dan koran, dalam sepuluh tahun terakhir jumlah nama/judulnya sangat meningkat. Mestinya ini berarti makin banyak orang berminat membaca. Tetapi sayang, minat ini hanya terbatas pada membaca koran, majalah maupun novel. Sedangkan minat baca yang dimaksud tentunya juga membaca buku yang memuat pengetahuan yang menyebabkan masyarakat suatu negeri memiliki penduduk yang cerdas mampu bersaing setaraf dengan masyarakat negeri lain di bidang apa saja di dunia internasional. Ini terlihat dari buku yang terjual di bulan Mei sampai April, angka tertinggi Novel Laskar Pelangi karangan Andrea Hirarta sebanyak 250-300 eksemplar perbulan. Kedua Ayat-ayat Cinta sebanyak 120-an sampai 200-an eksemplar. Begitu juga pada kelas remaja Komik Naruto menduduki urutan teratas dengan penjualan 150-an eksemplar perbulan.

Mengapa minat baca di Indonesia dikatakan rendah?

Bicara soal minat baca masyarakat kita, pendapat orang tentang ini suka terpecah. Ada yang beranggapan memang minim, tapi ada juga yang menuding daya beli yang rendah yang membuat masyarakat kita kelihatan kurang doyan dengan kegiatan membaca. Lantas yang benar yang mana ya?

Pertama soal daya beli dan harga buku yang mahal.

Harga buku yang sangat mahal sementara kondisi perekonomian masyarakat masih memprihatinkan. Orang tentu lebih memilih membeli kebutuhan pokok sehari-hari dari pada membeli buku. Asumsi ini tidak dapat dibenarkan sepenuhnya karena banyak orang yang secara ekonomi telah mampu justru tidak membeli buku. Mereka lebih memilih membeli hand phone terbaru (biasanya yang pakai kamera) buat anak-anaknya dari pada membeli buku. Pernahkah anda dengar ada orang tua yang memberikan hadiah ulang tahun berbentuk buku bacaan pada anaknya ?.

Umumnya orang bersedia mengeluarkan uangnya dengan melihat salah satu atau dua faktor: nilai manfaat dan nilai kesenangan. Kenyataannya, kebanyakan orang kita tidak pernah pelit untuk urusan kesenangan. Setiap ada film baru yang bagus, loket di gedung-gedung bioskop akan penuh dengan antrian calon penonton. Hal yang sama kita lihat di mall, toko kaset, atau di restoran fast food. Hampir setiap saat akan selalu ada orang yang bersedia membelanjakan uangnya disana.

Persoalannya sekarang, buku bagi sebagian besar diantara kita masih belum menjanjikan salah satu atau keduanya, baik nilai manfaat maupun kesenangan. Dalam skala prioritas, keluar uang untuk membeli buku akan berada di urutan terendah. Mau bukti? Berapa banyak sih diantara kita yang begitu terima gaji atau — bagi yang masih bergantung pada orangtua —  mendapat uang saku lantas langsung ngacir ke toko buku? Ceritanya berbeda kalau ada buku yang cukup menarik perhatian (punya nilai kesenangan), atau memang sangat diperlukan (punya nilai kebutuhan), baru deh, kelihatan "daya beli" orang Indonesia di toko buku :).

Kedua Pola dan gaya hidup masyarakat konsumtif

Pola dan gaya hidup masyarakat yang memang tampaknya selalu ingin unjuk diri, pamer akan kelebihan-kelebihan dari segi materi. Kita belum pernah mendengar pujian misalnya "Wah bagus benar bukunya, buku seperti itu sudah langka lho di pasaran". Yang akrab di telinga kita justru kata-kata seperti " Wah bagus sekali ponselmu, berapa harganya ? apakah merek Nokia, Siemens, Motorola, Samsung. Wah pakai kamera lagi". Pengetahuan yang kita peroleh melalui membaca buku memang tidak bisa tampak serta merta seperti pakaian misalnya. Ia adalah asset yang hanya dapat disimpan untuk sekali-sekali digunakan.

Ketiga, sistem pembelajaran di Indonesia

Sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca buku (lebih banyak lebih baik), mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan, mengapresiasi karya-karya ilmiah, filsafat, sastra dsb.

Keempat, banyaknya jenis hiburan

Banyaknya jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku, surfing di internet walaupun yang terakhir ini masih dapat dimasukkan sebagai sarana membaca. Hanya saja apa yang dapat dilihat di internet bukan hanya tulisan tetapi hal-hal visual lainnya yang kadangkala kurang tepat bagi konsumsi anak-anak. Kemudian, banyaknya tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket.

Kelima, pengaruh latar belakang budaya

Rendahnya minat baca mungkin juga adalah pengaruh latar belakang budaya kita yang memang tidak terbiasa dengan bacaan. Dulu para nenek moyang kita memperoleh ilmu dengan cara bertapa dan semedi atau berguru pada orang-orang pintar. Kepandaian yang selalu disampaikan secara lisan turun-temurun. 
Selain kendala kultural seperti di atas, ada hambatan lain secara struktural hingga orang malas membaca. Budaya baca memang belum pernah diwariskan nenek moyang kita. Kita terbiasa mendengar dan belajar berbagai dongeng, kisah, adat-istiadat secara verbal dikemukakan orangtua, tokoh masyarakat, penguasa pada zaman dulu.

Pengaruh Minat Baca yang Rendah Terhadap Sumber Daya Manusia

Makin rendahnya minat baca merupakan ancaman yang potensial mengganggu program peningkatan kualitas sumber daya manusia di segala bidang dan lapisan masyarakat lantaran ia bisa membikin tumpul kepekaan kita terhadap segala hal utamanya manusia dan kemanusiaan.

Tingginya animo masyarakat untuk membaca surat kabar dan majalah saat ini sebagaimana tampak di instansi pemerintah dan perpustakaan tidak bisa dijadikan patokan bahwa minat baca sudah meningkat. Perlu diketahui bahwa membaca koran dan majalah hanyalah usaha yang susah payah untuk mengoleksi informasi atau untuk mengetahui peristiwa yang bersifat temporal atau sesaat.

Persepsi umum untuk kegiatan membaca juga tidak selalu positif. Orang yang punya hobi membaca sering diasosiasikan sebagai orang yang introvent, suka menyendiri, atau bahkan asosial. Tidak heran, kaum pecinta buku disini sering diberi sebutan "kutu buku", sebuah panggilan yang sebenarnya lebih bermakna ejekan ketimbang penghargaan.

Umumnya masyarakat kita suka bacaan yang ringan, macam novel atau fiksi. Untuk jenis non-fiksi, akhir-akhir ini ada trend peningkatan minat untuk bacaan sastra seperti karangan Kahlil Gibran, atau kumpulan kisah-kisah inspiratif seperti serial "Chicken Soup". Untuk buku-buku praktis, orang kita umumnya lebih suka buku yang sifatnya "how-to" ketimbang yang mengupas suatu hal secara mendalam.

Tidak sedikit keluarga di Indonesia yang belum mentradisikan kegiatan membaca. Padahal, jika ingin menciptakan anak-anak yang memiliki pikiran luas dan baik akhlaknya, mau tidak mau kegiatan membaca perlu ditanamkan sejak dini. Bahkan, Fauzil Adhim dalam bukunya Membuat Anak Gila Membaca (2007) mengatakan, bahwa semestinya memperkenalkan membaca kepada anak-anak sejak usia 0-2 tahun. Apa pasal?

Sebab, pada masa 0-2 tahun perkembangan otak anak amat pesat (80% kapasitas otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama) dan amat reseptif (gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Bila sejak usia 0-2 tahun sudah dikenalkan dengan membaca, kelak mereka akan memiliki minat baca yang tinggi. Dalam menyerap informasi baru, mereka akan lebih enjoy membaca buku ketimbang menonton TV atau mendengarkan radio.

Namun, apa sajakah usaha-usaha yang perlu dilakukan guna menumbuhkan minat baca anak-anak sejak dini? Dalam buku Make Everything Well, khusus bab "Menciptakan Keluarga Sukses" (2005), Mustofa W Hasyim menganjurkan agar tiap keluarga memiliki perpustakaan keluarga. Sehingga perpustakaan bisa dijadikan sebagai tempat yang menyenangkan ketika ngumpul bersama istri dan anak-anak.

Di samping itu, orangtua juga perlu menetapkan jam wajib baca. Tiap anggota keluarga, baik orangtua maupun anak-anak diminta untuk mematuhinya. Di tengah kesibukan di luar rumah, semestinya orangtua menyisihkan waktunya untuk membaca buku, atau sekadar menemani anak-anaknya membaca buku. Dengan begitu, anak-anak akan mendapatkan contoh teladan dari kedua orang tuanya secara langsung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.